![]()
Forum Wartawan pariwisata dan Ekonomi Kreatif kembali menggelar kegiatan Ngoprek, Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kali ini bekerja sama dengan Jatim Park Group dan Kementerian Pariwisata, Ngoprek digelar di Kota Batu Malang, tepatnya di Jatim Park 3 pada 15 September 2026.
Dengan tajuk “ Safety Tourism, Sustainable Future: Membangun Wisata Aman, Edukatif, dan Berkelanjutan “, hadir sebagai pembicara; Fadjar Hutomo, Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kepariwisataan, Kementerian Pariwisata, Rio Imam Sendjojo, Direktur Jawa Timur Park Group, Suryo Widodo, Direktur Jawa Timur Park 3, Titik S. Ariyanto, Manager Marketing & PR Jawa Timur Park Group dan dimoderatori oleh Wahyu Setyo, Wakil Ketua Forwaparekraf.
Fajar Hutomo menjelaskan bahwa pariwisata itu adalah tentang persepsi. Ketika sebuah daerah dipersepsikan tidak aman karena banyak kriminalitas atau kecelakaan, tentu ini menjadi hambatan (barrier) untuk kepariwisataan berkelanjutan.
Untuk itu kita harus melihatnya keamanan dan keselamatan suatu destinasi sebagai sebuah ekosistem. Ada regulasi, implementasi, dan pengawasan. Lalu SDM, baik dari pelaku usahanya maupun pengunjung. Kemudian peran media juga penting untuk memberikan edukasi, safety awareness ke masyarakat. “Banyak kejadian kecelakaan berawal dari ketidakpatuhan atau keras kepalanya wisatawan, misalnya disuruh pakai pelampung tapi menolak,” tambah Fajar.
Terkait regulasi, pemerintah telah menetapkan kebijakan lewat Permenparekraf mengenai Standar Usaha Pariwisata yang sudah mengatur secara detail standar operasional. “ Kita juga merujuk pada Undang-Undang Pencarian dan Pertolongan No. 29 Tahun 2014, yang mewajibkan penyedia jasa pariwisata berisiko untuk menyediakan SDM yang kompeten di bidang pencegahan dan pertolongan. Jika terjadi kelalaian yang menghilangkan nyawa, ada sanksi hukum hingga pertanggungjawaban korporasi, bukan hanya sanksi administrative, “ ujar Fajar.

Rio Imam Sendjojo, mewakili pelaku usaha pariwisata menjelaskan dalam membangun kesadaran keselamatan dan keamanan, Jatim Park Group telah melakukan aplikasi baik untuk internal maupun eksternal. “Karyawan kami diberikan pelatihan dan disertifikasi oleh lembaga dari LSU maupun kementerian. Kami juga melakukan sertifikasi terhadap kelayakan wahana, “ katanya.
Kemudian Suryo Widodo menambahkan sebagai pihak pengelola tempat wisata, mengatakan bahwa JTP juga menggunakan konsep pengelolaan yang ramah lingkungan. Pemakaian listrik dan air kita efisiensikan sesuai aturan Lingkungan Hidup, yang sekarang sangat ketat. “ Pariwisata tidak bisa berdiri sendiri, perlu kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat sekitar, komunitas, dan media. Termasuk kita harus peduli dengan ekosistem lokal , masyarakat sekitar, “ tambah Suryo.
Titik Ariyanto sebagai seorang yang bekerja sebagai public relation, media sosial menjadi perhatian utama saat ini akibat isu yang bersifat viral dan mempengaruhi pandangan masyarakat akan suatu destinasi wisata. Untuk itu Titik Ariyanto mempunyai sebuah tim yang memantau setiap unggahan dan komentar yang berkaitan dengan isu negative.
“ Saya punya tim yang bekerja keras memantau setiap komentar dan postingan sebagai early warning system. Kalau ada informasi negatif, kita langsung buat rencana dan mengambil tindakan ( take action).
“ Hal-hal krisis tidak boleh dibiarkan lebih dari 24 jam. Pak Rio selalu menjadi orang pertama yang saya laporkan mengenai langkah-langkah penanganannya. Contohnya saat ada postingan viral hoaks dari netizen tentang singa kurus di Jatim Park 2 yang dinarasikan tidak diberi makan. Dalam waktu kurang dari 24 jam, jempol netizen berbalik dari negatif menjadi positif setelah kami berikan klarifikasi fakta, “ cerita Titik.
Mengenai kesadaran keamanan untuk pengunjung, edukasi safety ini sangat utama. Secara offline, saat beli tiket masuk sudah ada aturan dan larangan yang disampaikan. Di wahana permainan, ada daily inspection sebelum beroperasi. “Secara online, kami rutin membuat konten edukasi di media sosial tentang maintenance dan operasional wahana. Jika ada wahana yang sedang diperbaiki, kami informasikan secara transparan agar tidak menimbulkan persepsi negative, “ tambahnya.
