Maharasa “A Gastronomy Experience”, Sambut Kepulangan Rasa Jawa Kuno di Candi Ijo

Maharasa “A Gastronomy Experience”, Sambut Kepulangan Rasa Jawa Kuno di Candi Ijo

ajax loader

Maharasa “A Gastronomy Experience”, sebuah brand program dari Dapur Alit, sukses digelar di Candi Ijo, Yogyakarta, pada 27 Desember 2025. Acara ini merupakan kolaborasi bersama Museum Sanghyang Dedari dan Bhumi Banten, yang menghadirkan perjumpaan antara gastronomi, sejarah, spiritualitas, dan kesadaran ekologis dalam satu pengalaman yang utuh dan reflektif.

Sorotan utama Maharasa kali ini adalah kehadiran Padi Taun yang dibawa langsung dari Desa Adat Geriana Kauh, Bali, satu-satunya desa adat yang hingga kini masih melestarikan ritual suci untuk padi sebagai bagian dari siklus hidup dan spiritual masyarakatnya. Kehadiran Padi Taun di tanah Jawa dimaknai sebagai simbol kepulangan nilai-nilai agraris Nusantara yang perlahan terputus dari kehidupan sehari-hari.

Dalam sejarah Jawa, kesadaran ini telah hidup sejak berabad-abad lalu. Pada abad ke-8 Masehi, Mpu Kalangwan menuliskan Lontar Sri Sedhana yang memuat kisah turunnya padi, titi mangsa, serta ritual pertanian sebuah panduan eco-teologi Jawa Kuno bagi kehidupan agraris masyarakat. Pada masa setelah Majapahit, nilai tersebut terus bertransformasi melalui Cariyos Dewi Sri, yang mengawinkan tradisi agraris Jawa dengan nilai-nilai Islam.

IMG 4880

“Lontar Sri Sedhana dan Cariyos Dewi Sri adalah tunjungan eco-teologi Jawa yang sangat penting bagi kehidupan kita. Inilah mindfulness Jawa Kuno, bahwa setiap laku hidup adalah ritual dan kesadaran. Melalui Maharasa, kami berharap medium gastronomi dapat menjadi jembatan pelestarian budaya Jawa, bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dialami. Ketika rasa, tubuh, dan kesadaran terlibat, budaya tidak lagi menjadi arsip, melainkan kembali hadir sebagai bagian hidup kita sehari-hari. Membawa Padi Taun ke Maharasa adalah cara kami menyambut kepulangan rasa dan mengingatkan kami kembali pada rasa yang telah lama hilang dari tanah Jawa,” ujar Cilik Tripamungkas, Founder Maharasa & Dapur Alit.

Rangkaian acara Maharasa diawali dengan welcome ritual berupa pemeriksaan air suci oleh Wasi (Pemangku Jawa) dan pengalungan bunga, dilanjutkan heritage tour Candi Ijo yang dipandu oleh pemandu cagar budaya. Puncak acara ditandai dengan makan malam hidangan Jawa Kuno, disusun berdasarkan rujukan prasasti dan relief candi, dengan menu utama nasi dari Padi Taun. Acara ditutup dengan sesi refleksi bersama. Sebagai Guest Chef, Maharasa menghadirkan Chef Tama, yang menerjemahkan khazanah kuliner Jawa Kuno ke dalam sajian yang relevan bagi lidah masa kini tanpa kehilangan ruh dan maknanya.

DSC02479 rotated

Para peserta juga dipandu dalam tata cara makan dan minum seperti pada masa Jawa Kuno. Salah satu praktik sederhana namun sarat makna adalah meneteskan setetes minuman ke tanah sebelum diminum, sebagai persembahan kepada Ibu Pertiwi, wujud penghormatan atas kehidupan yang telah diberikan dan dinikmati bersama.

Pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. dr. Herin, salah satu peserta Maharasa, membagikan refleksinya, “Ketika saya makan, ini nasi yang didoakan. Di zaman sekarang, jarang ada yang benar-benar mengingat untuk berterima kasih kepada bumi. Kita sering lupa, seolah menjadi penguasa bumi, padahal sesungguhnya kita hanya segelintir debu. Malam ini saya makan sangat pelan, karena merasa didoakan dan dicintai oleh banyak orang. Terima kasih atas pengalaman luar biasa ini. Semoga semakin banyak orang yang terkoneksi dengan alam semesta, tidak hanya mengambil, tetapi juga memberi dampak bagi sesama dan alam.”

Melalui Maharasa, Dapur Alit menghadirkan kembali makan sebagai ruang perjumpaan antara rasa dan ingatan, tubuh dan kesadaran, manusia dan alam. Sebuah ikhtiar untuk merawat warisan leluhur agar tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan terus hidup, dialami, dan mengalir kembali dalam keseharian kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *