Muhibah Laksama Cheng Ho Abad ke-15 Singgahi Aceh Sebagai Kota Pertama

Muhibah Laksama Cheng Ho Abad ke-15 Singgahi Aceh Sebagai Kota Pertama

Sebuah prasasti tentang peluncuran jalur Chengho telah ditandatangani oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya di Banda Aceh. Prasasti ini ditandatangani pada peringatan Hari Nusantara 13 Desember 2015 di Pelabuhan Lampulo, Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Ternyata pemerintah China tengah mengembangkan paket wisata jalur perjalanan Laksamana Cheng Ho. Indonesia menjadi bagian dari perjalanan Laksamana Cheng Ho dan ada 10 kota yang disinggahi. Prasasti tersebut untuk menyatakan dukungan dan kesiapan Indonesia, khususnya Aceh untuk menyambut wisatawan yang akan berkunjung untuk melihat jejak persinggahan Laksamana Cheng Ho.

Laksamana Cheng Ho, dikenal juga dengan nama Ma Sanbao atau Haji Mahmud Shams (1371 – 1433). Ia adalah bahariawan terbesar asal Tiongkok yang melakukan perjalanan atau muhibah bahari dengan 62 armada kapalnya sebanyak 7 kali ke-37 negara dalam 28 tahun. Di wilayah Indonesia, Cheng ho singgah di 10 kota, yaitu Banda Aceh, Batam, Tanjung Pandan – Pangkal Pinang, Palembang, DKI Jakarta, Cirebon, Semarang, Tuban, Surabaya dan Denpasar.

Untuk Aceh, Laksamana Cheng ho singgah di dua kerajaan, yaitu Kerajaan Samudera Pasai dan Kesultanan Lambri. Di Samudera Pasai, Cheng Ho menghadiahi Lonceng besar atau genta yang dinamai Cakra Donya (cakra dunia). Lonceng tersebut berukuran tinggi 1,25 meter dan diameter 1 meter serta berukiran tulisan Arab dan China.

Cakradonya2-620x413

Cakra Donya merupakan simbol hubungan persaudaraan antara Kaisar Tiongkok dan Raja Samudera Pasai. Sejak tahun 1915 genta ini tersimpan di Museum Aceh dan menjadi bukti hubungan sejarah Aceh dan Tiongkok sejak lama telah terjalin.

Kapal Muhibah Cheng Ho yang disebut kapal pusaka merupakan kala terbesar abad ke-15. Panjangnya 44,4 zhang (138 meter) dan lebar 18 zhang (56 meter). Ukuran yang 5 kali lebih besar dari kapal Columbus. Selain itu armada kapalnya sebanayak 62 kapal besar dan didukung oleh 225 junk atau kapal kecil. Semua kapal itu mengangkut 27.550 orang perwira dan prajurit. Juga ada ahli astronomi, politikus, pembuat peta, ahli bahasa, ahli geografi, tabib, juru tulis dan intelektual.

Jalur persinggahan Laksamana Cheng Ho di Indonesia bisa dijadikan paket wisata menarik, khususnya wisatawan dari China. Di tiap kota dapat dibangun museum atau monumen tentang kunjungan Laksamana Cheng Ho. Seperti dilakukan oleh Kota Semarang yang telah mendirikan Kelenteng Sam Po Kong dan menjadikan persinggahan Laksaman Cheng Ho sebagai destinasi wisata andalannya.

Sumber foto Laksama Cheng Ho: http://www.chenghocity.com/storyofchengho.html

Sumber foto Cakra Donya : http://www.bandaacehtourism.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »