Kuambil Lagi Hatiku, Fillm Produksi PFN Studio Bersetting Candi Borobudur

Candi Borobudur kembali menjadi setting sebuah film layar lebar. Film terbaru produksi Perusahaan Film Negara ( PFN Studio), “ Kuambil Lagi Hatiku “. Pada film drama percintaan yang dibalut unsur komedi ini, PFN Studio menggaet Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Wahana Kreator Nusantara.

Film yang bersetting di India dan Indonesia ini disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dengan Salman Aristo menjadi produser. Arief Ash Shiddiq dan Rino Sardjono bertindak sebagai penulis.

Pada lokasi di Indonesia, mengambil kawasan Candi Borobudur. Mulai dari lingkungan candi hingga pedesaan dan penginapan di sekitar kawasan Candi Borobudur. Salah satunya adalah Omah Guyub Wringin Putih milik Pertamina

Film bercerita tentang Sinta seorang India keturunan yang tengah merencanakan pernikahan dengan Vikas. Namun menjelang pernikahannya, Widi sang ibu mendadak kabur ke Indonesia. Sinta yang didesak untuk mempercepat pernikahan oleh calon mertua, terpaksa mencari tahu ibunya pergi kemana. Setengah mati Sinta memutar otak mengira-ngira kemana tujuan sang ibu. Dia teringat dengan kotak tua kenangan ibunya dan mendiang sang ayah.

Di kotak itu, Sinta menemukan fotofoto lama orang tuanya di Borobudur. Tanpa pikir panjang, Sinta nekat pergi menyusul Widi untuk membawanya pulang. Vikas awalnya bersikeras untuk menemani, namun Sinta butuh Vikas supaya bisa mengalihkan perhatian keluarganya. Semua demi rentetan upacara pernikahan mereka. Vikas setuju, dengan syarat, Sinta harus selalu mengabari Vikas setiap waktu. Sinta mengiyakan. Bermodalkan beberapa foto lama orang tuanya, Sinta pergi ke kampung sang ibu, yang bahkan tak pernah dia ceritakan sebelumnya, Desa Borobudur.

kuambil lagi hatiku

Dibintangi oleh Lala Karmela, Cut Mini, Dimas Aditya, Ria Irawan, Sahil Shah, Dian Sidik, dan Ence Bagus. Film ini mulai ditayangkan pada 21 Maret 2019.

 

Lala Karmela mengatakan untuk memahami karakternya, ia belajar dua budaya yaitu budaya Jawa dan India, “Karakter yang aku mainkan, Sinta lahir dan besar di India. Aku harus belajar bahasa, tarian, dan bagaimana orang India dalam keseharian bersikap. Selain itu, belajar budaya Jawa juga karena kebanyakan film diambil di sekitar Borobudur.”

Mengambil latar keindahan Candi Borobudur, film ini hendak memperlihatkan tentang kekayaan budaya dan keberagaman Indonesia. Pemilihan Borobudur bukan sekadar setting film, namun juga merupakan sebuah aspek penting dari film. Patut diingat bahwa Candi Borobudur adalah bangunan yang termasuk dalam World Heritage Site oleh UNESCO.

PIhak TWC Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Edy Sutijono pun menjelaskan pada pemutaran perdana di Epicentrum Walk Mall, 13 Maret 2019, bahwa film ini dibuat untuk menggaet kalangan anak muda millennial untuk tak hanya mengenal dan tertarik mengunjungi Candi Borobudur, tetapi juga mengenal kebudayaan setempat yang diceritakan dalam film ini.

Selain itu, Setting India juga sengaja diambil, selain memang memiliki keunikan budaya antara budaya Jawa dan India, jua untuk menarik wisatawan asal India untuk berkunjung ke Borobudur.

Mohamad Abduh Aziz, Direktur Utama Produksi Film Negara menjelaskan, “Cerita film ini berasal dari ide PFN yang kemudian dikembangkan bersama Wahana Kreator Nusantara dan Taman Wisata Candi. Sebagai perusahaan film, kami harus memahami perkembangan zaman dan berperan dalam menghidupkan industri.”

Film “Kuambil Lagi Hatiku” merupakan produksi terbaru dari PFN setelah terakhir melakukannya di era 90an. PFN merupakan salah satu perintis industri film di Indonesia pada saat terbentuk. Berdiri di tahun 1934, sejarah perfilman Indonesia tak lengkap jika tidak membahas PFN. PFN adalah saksi sejarah perjuangan bangsa dan salah satu perusahaan  perfilman yang tetap bertahan hingga sekarang.

Pada masa aktifnya, PFN memproduksi film dokumenter bertema kepahlawanan, lalu berkembang membuat film cerita yang bertema pendidikan dan penerangan yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Dua film terakhir yang digarap adalah “Pelangi di Nusa Laut” (1992) dan “Surat Untuk Bidadari” (1994).

Selain TWC, sejumlah BUMN juga turut mendukung proses produksi film ini di antaranya Pertamina, Pelindo 3, Garuda Indonesia, Jasa Raharja, Wijaya Karya, Perusahaan Gas Negara, Bank Mandiri, Bank BTN, Bank Negara Indonesia, Patra Jasa, dan Pupuk Indonesia.

Artikel Terkait:

Sumber foto : https://www.facebook.com/studiopfn/

 

favico tourismvaganza website

TOURISMVAGANZA

Travel, Lifestyle & Entertainment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2013 - 2021 Tourism Vaganza - Allright Reserved | Web by Diitalizer
crossmenu linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram